Politik Identitas di Indonesia, Strategi Pemenangan Pada Pemilihan Kepala Daerah di Maluku
Utara 2013
Syntax Transformation, Vol. 2 No. 4, April 2021 419
pada pilkada Maluku Utara 2013.
Keenam (6) paslon rasanya sulit untuk
melepaskan diri dari sosok yang
menidentifikasikan dirinya sebagai
perwakilan dari beberapa etnis yang ada.
Dengan masyarakat yang multi etnis akan
terbuka luas peluang bagi 6 paslon untuk
meraih kemenangan dalam pilkada. Dan
kemenangan tersebut bisa diraih apabila
penggunaan strategi sesuai dengan
kebutuhan pasar atau pemilih.
Penggunaan identitas etnis oleh
paslon dalam Pilkada 2013 menjadi
pertimbangan karena komposisi etnis
yang ada di Maluku Utara, ada terdapat 7
kelompok etnis dominan menurut jumlah,
kualitas, dan keterwakilan mereka di
lembaga pemerintahan daerah. Etnis-etnis
yang dimaksud adalah: pertama, Tobelo
(10,78%) yang dominan di Halmahera
Utara dan tersebar di Halmahera Selatan,
Halmahera Timur, dan Halmahera
Tengah; kedua, etnis Galela (9,70%)
dominan di Pulau Morotai tersebar juga
di Halmahera Selatan, dan Halmahera
Utara; ketiga, etnis Ternate (9,40%)
dominan di Kota Ternate dan tersebar di
Halmahera Barat; keempat, etnis Makean
(8,51%) dominan Pulau Makean dan
tersebar di Halmahera Selatan, Halmahera
Barat, Halmahera Timur, Halmahera
Tengah, dan Kota Ternate; kelima, etnis
Tidore (7,76%) dominan Pulau Tidore
dan tersebar di Halmahera Tengah, dan
Kota Ternate; keenam, etnis Sula (6,98%)
dominan di Kepulauan Sanana dan
tersebar di Kota Ternate; ketujuh, etnis
Buton (5,67%) dominan di pulau Taliabu
dan pulau Obi. Dari 7 etnis tersebut, ada 5
etnis yang menjadi langganan pada
momen pilkada, diantaranya; etnis
Tobelo, Galela, Tidore, Makean, dan
Ternate.
Sesungguhnya para tokoh yang
bertarung meyakini bahwa basis massa
yang dimilikinya akan memberikan
dukungan dalam pilkada. Sebab modal
sosial yang dibangun dalam masyarakat
sudah cukup lama sehingga akan
berdampak pada hasil yang diharapkan.
Namun hal tersebut tidak berbanding
lurus dengan yang diprediksikan.
Berdasarkan pengalaman yang telah
terjadi, maka seorang tokoh akan
melakukan pilihan strategi yang sesuai
berupa penggunaan etnis, jaringan
ketokohan, dan program kerja.
Berkaitan dengan hal tersebut
pasangan AGK-Manthab yang
memenangkan Pilkada 2013 dapat
menggunakan simbol-simbol identitas ini,
sebab AGK berlatar belakang etnis
Tobelo-Galela yang dominan di Maluku
Utara serta memiliki rekam jejak
ketokohan yang baik akan diuntungkan
apabila memanfaatkan simbol identitas
etnis sebagai strategi pemasarannya. Hal
tersebut dapat ditemukan dalam
wawancara peneliti dengan informan.
Simbol identitas sangat menguat dan
terasa, ketika AGK melakukan kampaye
di Kabupaten yang didiami sebagian
besar etnis Togale (Tobelo Galela)
diantaranya Halmahera Selatan,
Halmahera Utara, dan Pulau Morotai.
Simbol identitas yang tampak adalah
penggunaan bahasa daerah (Tobelo) pada
saat kampanye, dan sangat menyentuh
bagi basis pemilih. Mereka merasa
bangga karena ada keluarga, saudara,
anak, dan cucunya berdiri di hadapan
masa kampanye untuk bertarung merebut
gubernur Maluku Utara. Maka
kebanggaan itu diaplikasikan dalam
bentuk dukungan suara pada AGK-
Manthab dalam meraih pemenangan.
Sementara untuk daerah yang bukan basis
etnis Togale (Tobelo-Galela) AGK-
Manthab berkampaye menggunakan
jaringan ketokohan, mesin politik partai
dan menyampaikan visi misi serta
program kerjanya dengan strategi direct