Apakah Masyarakat Indonesia Mementingkan Ideologi
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3 No.8, Agustus 2022 1055
mental Merkatilisme. Dengan ‘memaksa’,
pemerintah pusat menghendaki agar APBD tidak
dipakai untuk melakukan impor, terutama dalam
kondisi mendekati perang seperti sekarang ini.
Melalui Ideologi Kapitalisme, kita percaya
bahwa kreatifitas individu sekaligus kebebasan,
merupakan dua hal yang berjalan serentak.
Sedangkan kebebasan diiringi tanggung-jawab,
maka kreatifitas bersandar pada rasio maupun
aktifitas tiada henti. Tetapi manusia Indonesia
adalah orang-orang kolektif, sehingga keduanya
tidak terlalu diharapkan. Bahkan sering terdengar
bahwa Bangsa Indonesia merupakan peramu
yang kreatifitasnya mengarah pada ramuan itu.
Apakah itu sebuah kreatifitas.
Sedangkan dari Ideologi Sosialisme, kita
telah berkaca dari Uni Sovyet dan juga Negara-
negara Skandinavia. Ekonomi Sovyet runtuh
pada dekade 1980an, sedangkan perekonomian
Skandinavia justru membutuhkan intervensi
Negara, dengan pengenaan pajak tinggi, karena
masyarakat juga berkreatifitas tinggi. Kondisi itu
tidak mungkin diharapkan di Indonesia, yang
hanya dapat memakai barang-barang teknologis,
tetapi bukan untuk kreasi sosial.
Di atas sudah diuraikan pula, bagaimana
Tanam Paksa mengakibatkan beberapa
mentalitas pada diri manusia Indonesia, bahkan
hingga sekarang, Abad XXI. Salah satu-nya
adalah terlalu banyak Complain untuk hal-hal
yang tidak berdasar dan remeh-temeh.
Selain itu, harus disebutkan pula betapa manusia
Indonesia sulit menabung, dan merasa cepat puas
untuk hal-hal yang tidak diperoleh. Bukankah
menabung bagian dari sikap terhadap uang dalam
Kapitalisme.
Tidak salah jika Kapitalisme di Indonesia
adalah Kapitalisme yang hanya mampu menjadi
pasar dan pengguna produk-produk Teknologi.
Pada Ujian Tengah Semester beberapa bulan
lalu, saya bertanya mengapa manusia Indonesia
keberatan jika Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia
terlalu banyak dan membosankan. Tetapi
kurikulum Ilmu-ilmu Alam Indonesia justru
tidak memberi insentif yang cukup bagi lahirnya
berbagai kreasi sosial di Indonesia. Para
mahasiswa mayoritas menjawab hal itu terjadi
karena Ilmu-ilmu Sosial lebih banyak berisi teori
ataupun konsep, sedangkan aplikasinya kurang
terbukti, seperti maraknya korupsi.
Saya telah mengumpulkan 762 jawaban
Responden melalui Google Form, hasilnya
sebagai berikut : Hanya 24% Responden
menjawab Ideologi penting bagi masyarakat
Indonesia. Berarti 76% menganggap tidak terlalu
penting. Ideologi, menurut 86% Responden,
harus berkaitan dengan pekerjaan. Hanya 7%
menilai Ideologi terkait dengan Pengetahuan dan
Sikap dalam kehidupan. Hanya 31% Responden
menyatakan Ideologi yang diterima pada
pelajaran sekolah, sangat berguna. Tetapi 68%
Responden menyatakan bahwa kegunaan
tersebut terkait dengan soal beragama. Selain itu,
72% Responden menyatakan bahwa Teknologi
tidak terkait dengan Ideologi, hanya 14%
Responden menjawab sebaliknya
Ideologi dibutuhkan karena 26%
Responden menjawab Indonesia terlalu besar dan
masyarakat Indonesia merupakan masyarakat
plural. Sedangkan 71% Responden menjawab
karena tingkat pendidikan Indonesia semakin
maju. Fakta ini membingungkan karena korelasi
antara tingkat pendidikan tidak ekuivalen dengan
kegunaan Ideologi. Dan akhirnya, bahwa
Ideologi lebih kepada tujuan hidup, visi dan misi
individual saja, tidak perlu kolektif, hanya
dijawab 54% Responden. Mungkin karena itulah,
Pancasila dianggap bukan sebagai Ideologi
bangsa, meskipun pertanyaan tersebut tidak
eksplisit.
Pada akhirnya harus dikatakan bahwa
sosok manusia Indonesia memang ramah, banyak
tertawa dan rajin tersenyum. Selain itu, harus
dikatakan bahwa di Indonesia juga terlalu banyak
korupsi, mulai dari recehan hingga bantuan
sosial. Tetapi harus dikatakan bahwa pemerintah
sesungguhnya berasal dari masyarakat sendiri.
Orang-orang yang duduk dalam pemerintahan
saat ini, dulunya adalah masyarakat, yang terpilih
selama 5 (lima) tahun dalam kursi kekuasaan.
Dengan kata lain, apabila government criticis
selalu diarahkan pada pemerintah, masyarakat
sedang mengkritik dirinya sendiri.