How to cite:
Moertijoso B. R., Widiarto S. D. , Marzuki E. , Wahyudi B. (2022). Kuasa Politik Ilmu Komunikasi Di
Indonesia, Jurnal Syntax Transformation, 3 (3).
https://doi.org/10.46799/jst.v3i3.522
E-ISSN:
2721-2769
Published by:
Ridwan Institute
Jurnal Syntax Transformation
Vol. 3, No. 3, Maret 2022
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769
Sosial Sains
KUASA POLITIK ILMU KOMUNIKASI DI INDONESIA
Muhtar Wahyudi, Moh
1
. Edy Marzuki
2
, Didik Sugeng Widiarto
3
, R. Bambang Moertijoso
4
Universitas Trunojoyo Madura, Jawa Timur, Indonesia
1,4
Universitas Yudharta Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
2
Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
3
Email: [email protected], mung.edy@gmail.com, [email protected],
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Diterima
23 Maret 2022
Direvisi
17 Maret 2022
Disetujui
23 Maret 2022
Komunikasi pada dasarnya memberikan berbagai harapan bagi
Ilmu Sosial di Indonesia. Namun, harapan ini cenderung tumpul
dalam menghadapi Ilmu Komunikasi. Mengutip Rahardjo(2012),
komunikasi sering hanya dianggap sebagai studi teoritis yang
organisasinya memiliki orientasi untuk menghasilkan lulusan yang
cepat terserap oleh pasar. tulisan ini berusaha untuk menunjukkan,
bahwa setiap dinamika ilmu pengetahuan amat berhubungan secara
kompleks interdependensi dengan dinamika sosial politik dimana i1mu
pengetahuan itu hidup dan berkembang. Sejak kelahirannya pada tahun
1948 tumbuh kembangnya pada era 70-an dan detail kritik pada era
90-an hingga sekarang dinamika dan perkembangan ilmu komunikasi
tentu tak lepas dari aspek-aspek wacana dan kuasa yang
melingkupinya. Perkembangan i1mu komunikasi di Indonesia dalam
dinamika perkembangannya diwarnai oleh perdebatan dan fragmentasi
dari kubu-kubu pemikiran paradigmatik. Paradigma positivis dalam
i1mu komunikasi dapat berkembang pesat di Indonesia karena sesuai
dengan paradigma pembangunan (modernisasi). metode hipotetico
deductive, melalui lab. Eksperimen atau survey eksplanatif, dengan
analisis kuantitatif. Kriteria kuantitas penelitian pada obyektivitas,
reliabilitas dan validitas. Sedangkan pada paradigma kritis terdapat
sifat participative: mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual
dan analisis multi-level yang bisa dilakukan melalui penernpatan diri
sebagai aktivis/partisipan dalarn proses transformasi sosial. Kriteria.
kualitas penelitian adalah historical situatedness: sejauhmana
penelitian memperhatilmn konteks historis, sosial, budaya, ekonomi
dan politik. menghasilkan sesuatu, yakni formasi-formasi, sebuah
kewajaran. Bagi Foucault analisis arkeologi dan genealogi di atas
bukan merupakan dua analisis yang kontradiktoris, melainkan yang
saling melengkapi. Arkeologi berusaha menyendirikan tingkat praktek-
praktek diskursif dan untuk merumuskan aturan-aturan produksi dan
transformasi bagi praktek-praktek tersebut.
ABSTRACT
Basically it gives various hopes for Social Sciences in Indonesia.
However, these expectations tend to be blunt in the face of
Communication Science. Quoting Rahardjo (2012), communication is
Kata Kunci:
kuasa, paradigma,
ilmu komunikasi,
positivisme
Keywords:
power, paradigm,
communication
science, positivism.
Muhtar Wahyudi, Moh. Edy Marzuki, Didik Sugeng Widiarto, R. Bambang Moertijoso
406 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
often only considered as a theoretical study whose organization has an
orientation to produce graduates who are quickly absorbed by the
market. This paper tries to show that every dynamics of science is
closely related to the complex interdependence of the socio-political
dynamics in which science lives and develops. Since its birth in 1948,
its growth and development in the 70's and the details of criticism in
the 90's until now, the dynamics and development of communication
science certainly cannot be separated from aspects of discourse and
the power that surrounds it. The development of communication
science in Indonesia in the dynamics of its development is colored by
debate and fragmentation of the strongholds of paradigmatic thought.
The positivist paradigm in communication science can develop rapidly
in Indonesia because it is in accordance with the development
paradigm (modernization). Hypotetico deductive method, through the
lab. Experiments or explanatory surveys, with quantitative analysis.
The research quantity criteria are on objectivity, reliability and
validity. Meanwhile, the critical paradigm has a participatory nature:
prioritizing comprehensive, contextual and multi-level analysis that
can be done through placing oneself as an activist/participant in the
process of social transformation. Criteria. The quality of the research
is historical situatedness: the extent to which the research pays
attention to the historical, social, cultural, economic and political
context. produce something, namely formations, a naturalness. For
Foucault the above analysis of archeology and genealogy are not two
contradictory analyzes, but rather complementary ones. Archeology
seeks to isolate the level of discursive practices and to formulate the
rules of production and transformation for these practices.
Pendahuluan
Komunikasi pada dasarnya
memberikan berbagai harapan bagi Ilmu
Sosial di Indonesia. Namun, harapan ini
cenderung tumpul dalam menghadapi Ilmu
Komunikasi. Mengutip Rahardjo(2012),
komunikasi sering hanya dianggap sebagai
studi teoritis yang organisasinya memiliki
orientasi untuk menghasilkan lulusan yang
cepat terserap oleh pasar. Setiap entitas
(wacana) apapun tak akan lepas dari relasi
wacana dan relasi kuasa dalam konteks keber
adaannya (KARYA, 2019).
Dalam bahasa Foucault, menyimpan as
pek-aspek arkeologis dan genealogis
(Bertens, 1996). Tidak 1uput pula entitas
sebuah ilmu pengetahuan, eksistensi, dinamik
a dan perkembangannya beserta gerak episte
mologis, ontologis dan aksiologisnya bisa dip
astikan terkait dengan soalansoalan wacana
dan kuasa yang melatarbelekanginya
(Ibrahim, 1999).
Terlepas bahwa setiap dinamika dan
perkembangan sebuah ilmu pengetahuan itu
ditelikungi oleh filosofinya sendiri-sendiri,
sesungguhnya setiap dinamika ilmu
pengetahuan amat berhubungan secara,
kompleks interdependensi dengan dinamika
sosial politik dimana ilmu pengetahuan itu
hidup, dan berkernbang. Ini tak lepas dari
adanya asumsi bahwa setiap segala sesuatu
tercelup oleh soalan-soalan ideologis (Smith,
1990). Dengan begitu jika kita ingin
mernbahas dan mengupas eksistensi sebuah
ihnu pengetahuan kita tak akan mungkin
boleh melewatkan eksistensi sebuah "ideologi
kuasa" yang menelikungnya. Ini karena,
dalarn konteksnya kerapkali entitas sebuah
ilmu. pengetahuan dengan segala aspeknya
menjadi salah satu komponen dalam sebuah
jaringan konstruk hegemoni (Duryat, 2021).
Kuasa Politik Ilmu Komunikasi di Indonesia
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 407
Dengan begitu ilmu pengetahuan kerapkali
juga menjadi hegernonic apparatuses (Piliang,
2000), dalarn keseluruhan rangkaian
ideological state apparatuses (Bertens, 1996).
Demikian juga jika kita ingin
membahas dan mengupas perkembangan ilmu
komunikasi di Indonesia, tentu tak cukup bagi
kita dengan hanya memetakan dinarnika dan
perkembangannya berdasarkan filsafat
ilmunya. Lebih dari kesernua itu ilmu
kornunikasi dalarn konteks keindonesiaan
hadir tidak dalam. kevakuman. Sejak
kelahirannya pada tahun 1948, tumbuh
kembangnya pada era 70-an dan detail kritik
pada era 90-an hingga sekarang dinamika dan
perkembangan ilmu komunikasi tentu tak
lepas dan aspek-aspek wacana dan kuasa
yang melingkupinya.
Entah dalarn konteks ideologis atau
pada perkernbangannya, substansinya
hegemonilmya. Tentu ada soalan-soalan peta
filosofis dan konstruk kuasa jika Ibrahim
misalnya sampai perlu mengatakan, "Ilmu
komunikasi (di Indonesia) telah mati! (Mulasi
et al., 2021). Dalarn konteks yang
bagaimana?! Dan mengapa?! Melalui peta
dinamika dan perkembangan paradigma,
(ilmu, penelitian), geliat aras-aras
epistemologis, ontologis dan aksiologisnya,
dengan strategi arkeologi dan genealogi kita
akan dapat (sedikit) tangkap, kenapa dalam,
keseluruhan rentaknya dari tahun ilmu
komunikasi serupa ini?!.
Ferdinand de Saussure, ahli linguistik
kelahiran Swiss yang pertama kali membuka
wacana, teks yang tak lepas dan konteks.
Dalam bukunya Course in General
Linguistics sebuah tanda, dan teks menurut
Saussure terdiri dari sebuah penanda,
(signifier) dan petanda (signified). Menurut
Saussure hubungan antara penanda, dan
petanda bersifat arbitrer (diada-adakan),
sebab tidak ada keterkaitan logis misalnya
antara kata "buku" dan sebuah buku yang
nyata. Makna itu hanya akan muncul menjadi
suatu konvensi, dengan pengertian ia berada
tetap pada posisi yang disepakati pada
komunitas tertentu (Robby et al., 2016).
Disebabkan oleh penekanannya pada,
konvensi dan kode ini, pernahaman bahasa
yang dikembangkan oleh Saussure tampaknya
melihat individu sebagai subyek, tak lebih
dari "pengguna" kode-kode sosial yang telah
tersedia baginya. Berdasarkan pemahaman
tersebut, Saussure tidak tertarik untuk
mengaji bahasa dari sejarah dan artikulasinya,
melainkan lebih memusatkan dirinya pada,
kajian "struktur"yang menopang pada bahasa
itu sendiri (Abdullah, 2013). "Strukturalisme"
sebagaimana terlihat dari unsur katanya
sendiri adalah satu kecenderungan dan aliran
pernikiran yang berupaya menyingkap
struktur berbagai aspek pernikiran, ungkapan
dan tingkah laku manusia.
Karakteristik dari pendekatan Struktura
lisme ini adalah, bahwa ia tidak menaruh
perhatian pada mekanisme sebab-akibat dari
suatu fenomena. Sebaliknya, ia lebih menaruh
perhatian pada konsep, bahwa suatu totalitas
yang kompleks dapat dilihat sebagai suatu
perangkat unsur-unsur yang saling berkaitan
satu sama lain. Sebuah unsur hanya bermakna
ketika ia dikaitkan dengan perangkat unsur-
unsur secara total. Oleh sebab itu, apa, yang
ingin disingkap dalam analisis struktural
bukanlah hakekat suatu struktur, melainkan
relasi yang menghubungkan masing-masing
unsur. Dengan demikian, apa yang disebut
"makna" dalam suatu unsur pada suatu
kondisi pengungkapan tertentu tidak bisa
disingkap melalui tampilan formal unsur-
unsur itu sendiri melainkan melalui hubungan
pertandaan atau relasional antara unsur-unsur
tersebut dengan unsur-unsur lain dalam suatu
totalitas (SURYANGGHONO et al., 2020).
Menurut Saussure kalau fenomena
bahasa secara umurn ditunjukkan dengan
istilah langage, maka dalam langage harus
dibedakan antara parole dan langue. Dengan
kata parole itu dimaksudkan sebagai
pemakaian bahasa yang individual. Dengan
begitu, dalam konteks pembahasan ini parole
Muhtar Wahyudi, Moh. Edy Marzuki, Didik Sugeng Widiarto, R. Bambang Moertijoso
408 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
tidak masuk dalarn wilayah kajian. Apa yang
pantas disingkap adalah langue yakni bahasa
sejauh merupakan milik bersama dari suatu
golongan bahasa tertentu. Dengan begitu,
menurut Saussure langue harus dipahami
sebagai sebuah sistem.Atau menurut Piliang
(1999: 117) langue adalah sebuah sistern
bentuk.Yakni, totalitas dari sistern dan
konvensi bahasa. Siapapun individu yang
menggunakannya, sistern ini "sudah tersedia"
melampuai penggunaannya-
Para pengguna bahasa bukan pencipta
konvensi, meskipun para pengguna bahasa
beraneka ragam gaya, pilihan dan kombinasi
katanya tidak akan mempengaruhi sistem.
Sistern tidak akan berubah. Dengan
pemahaman langue semacam ini maka bahasa
menjadi bersifat sinkronik, yakni dalam
pengertian sebagai satu hubungan dari
seperangkat unsur-unsur dalam wadah waktu
yang ahistoris.
Secara sederhana, pemahaman bahasa
Saussure yang mendasari pemikiran
strukturalisme ini mernpunyai asumsi-asumsi
sebagai berikut: 1) kajian "subyek" sebagai
pencipta bahasa, tanda dan kode tidak lagi
penting, akan tetapi "subyek" hanya dilihat
sebagai pengguna bahasa, tanda, dan kode
yang sudah tersedia, 2) strukturalisme tidak
menaruh pcrhatian pada hubungan sebab-
akibat dan lebih memusatkan perhatian pada
relasi struktur, 3) dengan begitu sejarah tidak
lagi penting untuk dipertanyakan, akan tetapi
lebih ditekankan pada kajian tentang sistem
pada satu penggal waktu tertentu (Pifiang,
1999:116).
Pada konteks pembahasan, bahasa,
tanda dan kode, yakni entitas ilmu
komunikasi di Indonesia sebagai sebuah
petanda tidaklah dipandang sebagal sebuah
gaya atau ungkapan yang bersifat
fenomenologis akan tetapi seluruh rajutan
teks tersebut adalah sebuah langue. Yakni,
sebuah rajutan makna yang dilahirkan oleh
satu konteks sistern tertentu. Dengan begitu,
seluruh perkembangan ilmu komunikasi di
Indonesia tidak dianggap sebagai sebuah
sejarah keilmuan yang diakronik, akan tetapi
dipandang sebagai sebuah teks yang memiliki
rajutan makna berdasarkan wadah waktu yang
kontekstual.
Pandangan ini sekaligus
mengisyaratkan para pencipta bahasa, tanda
dan kode dalam khasanah ilmu komunikasi di
Indonesia tidak masuk dalam wilayah kajian,
karena para pencipta itu diasumsikan
hanyalah konsurner tanda dan kode yang
telah tersedia secara sistemik. Demikian pula
sebab-akibat kenapa bahasa, tanda dan kode
dalam khasanah ilmu komunikasi di
Indonesia sampai dilahirkan, diproduksi dan
direproduksi tidak lagi menjadi penting. Apa
yang lebih diperhatikan adalah bagaimana
relasi stuktur menyediakan bahasa, tanda dan
kode hingga menjadi preferensi bagi para
pencipta bahasa, tanda, dan kode dalam
dinamika dan perkembangan ilmu
komunikasi di Indonesia.
Dengan pernahaman teks yang
semacam ini agaknya analisis teks ala
Saussurian belum cukup untuk kajian ini. Ini
karena keranga pemaharnan struktural yang
semacam ini lebih seperti sebuah sistem
permainan catur (Bertens, 1996). Permainan
catur mempakan suatu sistem relasi-relasi di
mana setiap buah catur mempunyai
fungsinya. Dan sistern itu dikonstitusikan
oleh aturan-aturan. Menambah atau
mengurangi buah catur berarti mengubah
sistem secara esensional. Dengan begitu
seakan-akan bahasa, tanda dan kode yang ada
adalah sebagai sesuatu yang final.
Apa yang tampak luput dari pemikiran
Saussurian ini adalah adanya kemungkinan-
kemungkinan bagi kreatifitas dan
produktifitas dalam bahasa. Menurut Piliang
(1999: 117-118), ketertarikan Saussure pada
studi dan sistem, telah menutup pintu rapat-
rapat bagi pengkombinasian dan permainan
bahasa. Kebergantungan bahasa pada
konvensi tidak memberikan kernungkinan
bagi penciptaan kode kode yang baru.
Kuasa Politik Ilmu Komunikasi di Indonesia
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 409
Dengan realitas tersebut di atas,
analisis ini hanya efektif jika dihadapkan
pada tanda-tanda yang konvensional dan
mapan. Sebaliknya, ia akan menentukan
kesulitan dalam menyingkap dan menafsirkan
tanda-tanda yang bersifat sinkronik dan tidak
konvensional seperti yang terdapat pada
idiom-idiom postmodernisme. Apa yang juga
nampak 1uput dari perhatian analisis ala
Saussurian adalah aspek discourse dalam
sebuah teks. Yakni, aspek produksi dan
reproduksi bahasa, tanda dan kode. Ini yang
kemudian ditawarkan para pemikir
postmodemisme seperti Foucault dan Derrida.
Metode Penelitian
metode hipotetico deductive, melalui
lab. Eksperimen atau survey eksplanatif,
dengan analisis kuantitatif. Kriteria kuantitas
penelitian pada obyektivitas, reliabilitas dan
validitas (Arifin, 2018). Sedangkan pada
paradigma kritis terdapat sifat participative:
mengutamakan analisis komprehensif,
kontekstual dan analisis multi-level yang bisa
dilakukan melalui penernpatan diri sebagai
aktivis/partisipan dalarn proses transformasi
sosial. Kriteria. kualitas penelitian adalah
historical situatedness: sejauhmana penelitian
memperhatilmn konteks historis, sosial,
budaya, ekonomi dan politik.
Ilmu komunikasi yang merupakan
i1mu sosial tidak lepas dari fragmentasi dan
perdebatan dari berbagai pemikiran. Pilihan
teoritik dan paradigmatik yang dipaparkan
sebelumnya juga menunjukkan hal tersebut.
Strategi genealogi dalam analisisnya
berusaha mencari hubungan timbal balik
antara sistern kebenaran dan mekanisme
kuasa. Dengan kata lain, jika ingin melihat
bagaimana mekanisme kuasa berfungsi dalam
bidang tertentu dalam hal ini ilmu komunikasi
maka harus dicari rezim “politis" yang
memproduksi kebenaran. Hal ini karena apa
yang dianggap rasional atau pembawa
kebenaran termasuk dan pemikiran ilmu
komunikasi sebenarnya berakar pada
hubungan kuasa (Syafiuddin, 2018).
Paradigma positivis yang memang
datang lebih dahulu ke Indonesia
mendominasi pengajaran, penelitian ataupun
produk wacana dalam berbagai ragam teks
ilmu komunikasi. Paradigma positivis juga
dapat berkembang pesat karena sesuai dengan
paradigma pernbangunan (modernisasi) yang
menjadi mainstream. Terutama sekali
penekanannya pada penelitian efek
(pengaruh) selaras dengan konsepsi
"kerangka landasan" dan "tinggal landas"
modernisasi ataupun "need of achievement"
yang menganggap tradisi sebagai penghambat
(bottle neck) proses perubahan.
Fungsionalisme dalam paradigma
positivistik juga berperan dalam
berkembangnya produksi wacana.
Fungsionalisme melihat keberadaan atau
eksistensi masyarakat sebagai wujud
konsensus nilai dan selalu berusaha
menekankan pada keseimbangan dan
stabilitasnya. Oleh karena itu., komunikasi
selalu diarahkan untuk mempertahankan
status quo dan dijadikan sebagai adaptasi dan
sosialisasi masyarakat terhadap sistem dan
orde sosial yang ada (Uswatusolihah, 2016)
Hasil dan Pembahasan Makna Perjudian
dan Pertaruhan dalam Bidang Usaha
Perseroan Terbatas.
Menghasilkan sesuatu, yakni formasi-
formasi, sebuah kewajaran. Bagi Foucault
analisis arkeologi dan genealogi di atas bukan
merupakan dua analisis yang kontradiktoris,
melainkan yang saling melengkapi. Arkeologi
berusaha menyendirikan tingkat praktek-
praktek diskursif dan untuk merumuskan
aturan-aturan produksi dan transformasi bagi
praktek-praktek tersebut. Di lain pihak
genealogi memusatkan perhatian pada
kekuatan-kekuatan dan relasi-relasi kuasa
yang dikaitkan dengan praktek-praktek
diskursif. Genealogi tidak bersikeras untuk
memisahkan aturan-aturan untuk produksi
Muhtar Wahyudi, Moh. Edy Marzuki, Didik Sugeng Widiarto, R. Bambang Moertijoso
410 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
diskursus dan relasi-relasi kuasa. Akan tetapi
genealogi tidak menggantikan tempat
arkeologi. (Hariyanta, 1997: 16).
Dekonstruksi Derrida
Dekonsftuksi menurut Derrida, adalah
penyangkalan akan oposisi ucapan/tulisan,
ada/tidak ada, murni/tercemar dan penolakan
akan kebenaran dan logos itu sendiri.
Sebelumnya, Derrida mendemonstrasikan
bahwa sebuah tulisan kalau dinilai secara
benar-benar merupakan prakondisi dari
bahasa dan bahkan ada sebelum ucapan oral.
Kalau tulisan dilihat lebih dari sekedar grafis
atau prasasti dalarn pengertian yang normal,
maka tidak benar 'tulisan' adalah representasi
palsu, atau topeng dari ucapan. Tulisan
menurut Derrida, pada kenyataannya
melepaskan diri dari 'ucapan'dengan segala
asumsi kebenaran alamiah (logos)nya, dan
dari predikat sebagai topeng dari logos.
Tulisan adalah sebuah proses perubahan
makna secara terus menerus, dan perubahan
ini menempatkannya pada posisi di luar
jangkauan 'kebenaran mutlak'. Dalam hal ini
Derrida melihat tulisan sebagai 'jejak', bekas
tapak kaki yang mengharuskan kita
menelusurinya untuk mencari si empunya
kaki. Adalah proses berfikir, menulis,
berkarya berdasarkan prinsip jejak inilah yang
disebut Derrida sebagai 'defferance' (Piliang,
1999:79).
Differance adalah permainan secara
sistematis perbedaan-perbedaan, jejak-jejak
dari perbedaan-perbedaan, 'penjarakan' yang
dengan cara tersebut unsur-unsur dikaitkan
satu sama lain (Derrida, 1981). Jejak itu
secara esensial "bisu', walaupun ia
meninggalkan bekas di atas peta. Menurut
Derrida (1967:85) arti tidak pernah tarnpil
begitu saja, tapi selalu tampil dalam gerakan
jejak, yakni "yang memberi arti". Tulisan
dapat menjadi jejak yang bisu namun juga
dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan
belum dapat terkatakan. Penulisan adalah
penyingkiran yang terus menerus terhadap
makna, yang mengatur dan menempatkan
bahasa di bawah jangkauan pengetahuan yang
sudah mapan dan murni. Derrida mengatakan
bahwa gerakan makna tidak akan mungkin
bisa setiap unsurnya tidak hadir atau tarnpil, y
muncul sebagai yang menampakkan diri dan
berhubungan dengan hal-hal berikut ini:
mempertahankan tanda unsur yang lampau
dalam dirinya sendiri dan membiarkan dunia
dilipat oleh tanda pertahananya dengan masa
yang akan datang; jejaknya diketemukan
tidak hanya pada masa yang akan datang
namun juga pada masa lalunya; dan
menemani kehadirannya melalui pertaliannya
dengan sesuatu yang lain dan bukan dengan
sendirinya sendiri, bukan pula dengan masa
lalu, masa depan, atau dengan masa
sekarangnya yang sudah tergambarkan.
Sebuah interval harus berada di antara yang
ada (hadir) dan yang tidak hadir agar makna
tampil dalam konteks saat ini. (Hartono,
2018). Maka Derrida meyakini dibalik teks
filosofis yang terdapat bukanlah kekosongan,
tapi teks lain, satu jaringan keragaman
kekuatan-kekuatan yang pusat referensinya
tidak jelas.
Sebagai cara membaca teks,
dekonstruksi berbeda dari cara baca biasa.
Cara baca atau penafsiran yang biasa hendak
mencari makna atau warta dari sebuah teks.
Kalau bisa makna itu lebih jelas dari makna
teks aslinya. Bahkan kalau perlu ia akan
memberi premis-premis yang dalam teks
sendiri tidak tertulis. Dekonstruksi tidak
melakukan hal ini. Dekonstruksi berusaha
memperhatikan ketidakutuhan atau
kegagalan-kegagalan tiap upaya dari teks itu
untuk menutup diri. Dekonstruksi mau
menumbangkan hierarki konseptual yang
menstrukturkan sebuah teks. Lewat,
dekonstruksi, sebuah teks tidak lagi
merupakan tatanan makna yang utuh,
melainkan menjadi sebuah pergulatan antara
upaya penataan dan kekacauan, pergulatan
untuk mengatasi materialitas teks demi
mencapai transparansi, yang sia-sia (Sugiarto,
1996:46).
Kuasa Politik Ilmu Komunikasi di Indonesia
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 411
Untuk dapat menguraikan rahasia
Derrida kita harus kembali ke differance.
Pertama, differance adalah sebuah gerakan
(aktif atau pasif) yang terdiri dari penundaan,
karena penundaan, perutusan, penundaan
hukuman, penyirnpangan, penanggulangan,
penyimpangan. Dalam pengertian ini
kehadiran dinyatakan dalam sifat
representatifnya, tandanya atau jejaknya.
Dalam pengertian ini bila differance benar-
benar penundaan atau penangguhan, tetapi
masih tetap tanpa ekstase waktu. Kedua
differensi menciptakan perbedaan-perbedaan.
Meskipun demildan masih juga tetap menjadi
akar pertentangan, atau perlawanan atau
oposisi. Differance adalah jalan tengah di
antara dua ekstrim yang beroposisi. Ketika
differenci hanyalah sebuah proto jejak atau
proto waktu. Makna, sebagai tanda, selalu
tertunda. Kehadiran makna juga ditunda atau
dengan kata lain, masih bergerak antara masa
lalu dengan masa yang akan datang. Seperti
bila kita hendak menangkap makna ucapan
seseorang. Ini membuat differance tidak
pernah statis.
Strategi arkeologi adalah suatu strategi
yang berusaha menjelaskan regularitas sebuah
praktek diskursif. Dengan "regularitas"
dimaksudkan keseluruhan kondisi-kondisi
yang memainkan peranan dalam suatu
diskursus dan menjamin terjadmya diskursus
itu. Dalarn konteks kajian ini akan dianalisis
praktek-praktek diskursif yang memainkan
peran dalam melahirkan konstruksi pemikiran
ilmu komunikasi di Indonesia selama ini.
Strategi arkeologi tidak memandang
kontradiksi sebagai yang tampak pada
permukaan saja dan harus dilenyapkan
sebagai satu kesatuan yang lebih mendalam
dan juga tidak sebagai suatu prinsip
tersembunyi yang ditelanjangi, tapi
meluluskan kontradiksi dengan apa adanya.
Ini bisa ditempuh melalui perbandingan suatu
praktek diskursif dengan praktek diskursif
lainnya atau perbandingan antara suatu
praktek diskursif dengan praktek non-
diskursif (lembagalembaga, kejadian-kejadian
politik, proses-proses ekonomi dan sosial).
Secara singkat strategi arkeologi bermaksud
menunjukkan relasi-relasi antara sejumlah
bentuk diskursif yang tertentu (Bertens,
1996).
Jikaa strategi arkeologi sebatas
memperhatikan suatu formasi diskursif maka
strategi genealogi yang juga mempakan
strategi analisisnya Foucault, mempunyai
cakupan yang lebih jelas. Strategi analisis ini
berusaha mencari hubungan timbal balik
antara sistem kebenaran (dalam konteks ini
rajutan kontruksi pemikiran ilmu komunikasi)
dan mekanisme kuasa (mekanisme yang
didalamnya suatu rezim "politik'
memproduksi kebenaran). Genealogi tidak
berusaha menegakkan pondasi-pondasi
epistemologis yang istimewa, melainkan lebih
mau menunjukkan bahwa asal-usul apa yang
dianggap rasional (oleh sebuah ilmu),
pembawa kebenaran, berakar dalam
dominasi, penaklukan, hubungan kekuatan-
kekuatan atau dalam satu kata, kuasa
(Foucault, Michel, n.d.). Genealogi ingin
menganalisis strategi kuasa yang faktual, ia
tidak menyajikan suatu metafisika tentang
suatu kuasa tetapi tentang suatu miikro fisika.
Artinya, masalahnya bukan apakah itu kuasa,
melainkan berfungsinya kuasa dalam suatu
bidang tertentu (ihnu komunikasi).
Strategi dekonstruksi adalah cara baca
Derrida atas teks-teks ilmu komunikasi yang
hendak melacak struktur dan strategi
pembentukan makna dibalik tiap teks itu,
antara, lain dengan cara membongkar sistem
perlawanan sistem utama yang tersembunyi
didalamnya. Pembacaan analisis
dekonstruktif lalu hendak menunjukkan
agenda tersembunyi yang mengandung
banyak kelemahan dibalik teks-teks. Strategi
ini bukannya untuk mengungkap
pengorganisasian rasional premis-premis,
argumen dan kesimpulan yang terjalin rapi
dalam suatu teks yang tertata secara sadar,
melainkan untak membongkar tatanan teks
Muhtar Wahyudi, Moh. Edy Marzuki, Didik Sugeng Widiarto, R. Bambang Moertijoso
412 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
yang tidak disadari, yang merupakan asumsi-
asumsi yang tersembunyi dibalik hal-hal yang
tersurat itu. Dengan kata lain strategi ini
berupaya menampilkan tekstual laten dibalik
teks-teks (ilmu komunikasi di Indonesia) itu
(Sumaryono, 1993). Maka strategi ini
meyakini dibalik teks-teks (kornunikasi) yang
terdapat bukanlah kekosongan melainkan
sebuah teks lain, suatu jaringan keragaman
kckuatan-kekuatan yang pusat referensinya
tidak jelas (Derrida, 1982: xxiii)
.
Kesimpulan
Paradigma kritis sebagai pandangan
alternatif memang sulit berkernbang pada
awal-awal dan pertengahan perkembangan
ilmu komunikasi di Indonesia karena posisi
ideologisnya berlawanan dengan ideologi
penguasa. Tetapi seiring dengan
berkembanpya tuntutan demokratisasi
masyarakat maka penerimaan paradigma
kritis dalam ilmu komunikasipun semakin
meningkat.Terutama sekali pasca Reformasi
1998. Unsur filosofis komunikasi, pernyataan
tentang siapa yang mengontrol arus
informasi, siapa yang diuntungkan struktur
dan arus komunikasi, ideologi apa yang ada
dibalik penyebaran informasi, semua
permasalahan itu mulai mendapatkan tempat
dalarn perbicangan ilmu komunikasi di
Indonesia.
BIBLIOGRAFI
Abdullah, A. A. (2013). Metode penelitian
bahasa: buku perkuliahan Program S-1
Program Studi Bahasa dan Sastra Arab
Fakultas Adab dan Humaniora UIN
Sunan Ampel Surabaya. IAIN Press
Google Scholar
Arifin, M. B. U. B. (2018). Buku Ajar
Metodologi Penelitian Pendidikan.
Umsida Press, 1143. Google Scholar
Bertens, K. (1996). Filsafat barat abad XX:
Inggeris-Jerman. PT Gramedia. Google
Scholar
Derrida, J. (1981). Dissemination, trans.
Barbara Johnson. Chicago: University
of Chicago Press. Google Scholar
Duryat, H. M. (2021). Paradigma Pendidikan
Islam: Upaya Penguatan Pendidikan
Agama Islam di Institusi yang Bermutu
dan Berdaya Saing. Penerbit Alfabeta.
Google Scholar
Foucault, Michel, P. (n.d.). Selected Interview
& Other Writings. Colin Gordon (Ed),
New York: Books. Google Scholar
Hartono, H. (2018). Mengaktualisasikan
Amanat Agung Matius 28: 19-20 Dalam
Konteks Era Digital. KURIOS:(Jurnal
Teologi Dan Pendidikan Agama
Kristen), 4(2), 157166. Google Scholar
Ibrahim, I. S. (1999). Matinya Ilmu
Komunikasi?’’’. Jurnal Ikatan Sarjana
Komunikasi Lndonesia, III. Google
Scholar
KARYA, C. V. N. (2019). STUDI HUKUM
ISLAM INTERDISIPLINER Madzhab
Sunan Giri. Google Scholar
Mulasi, S., Hidayati, Z., Khaidir, M. A.,
Musradinur, M. S. I., Muhammady, A.,
MLS, M., Nadiah, M. P. I., Muflihin,
A., Hilman, C., & Mubaraq, D. F.
(2021). METODOLOGI STUDI ISLAM.
Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.
Google Scholar
Robby, R., Yusanto, F., & Nugroho, C.
(2016). Representasi Konsep Layanan
Garuda Indonesia Experience Pada
Desain Livery Sayap Alam Garuda
Indonesia. EProceedings of
Management, 3(1). Google Scholar
Sumaryono, E. (1993). Hermeneutik: sebuah
metode filasafat. Kanisius. Google
Scholar
SURYANGGHONO, G., Lukitasari, E. H., &
Anwar, A. K. (2020). Analisa MAkna
Kuasa Politik Ilmu Komunikasi di Indonesia
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 413
Logo IKIO Coffee di Madiun.
Universitas Sahid Surakarta. Google
Scholar
Syafiuddin, A. (2018). Pengaruh Kekuasaan
Atas Pengetahuan (Memahami Teori
Relasi Kuasa Michel Foucault).
Refleksi: Jurnal Filsafat Dan Pemikiran
Islam, 18(2), 141155. Google Scholar
Uswatusolihah, U. (2016). SIDANG
MUNAQASYAH SEBAGAI
PANGGUNG SANDIWARA (Studi
Dramaturgis Pelaksanaan Sidang
Munaqasyah Fakultas Dakwah IAIN
Purwokerto). Google Scholar
Copyright holder :
Endro Triwahjudi Suswardana (2022)
First publication right :
Jurnal Syntax Transformation
This article is licensed under: